BERAT DOSA Tahun 1678. Pesawat Timemachine Mach mendarat dengan sempurna, nggak kayak biasanya. Biasanya sih pasti ngadat tiap kali mundur ke tahun lampau. Setelah keluar dari pesawat, tiba-tiba ..bletuk! Sebuah batu besar menimpa atap pesawat. Ya. Ya. Ini baru kayak biasanya. Mach ketemu seorang misionaris yang lagi berkhotbah di depan sebuah bar. Rupanya di bar itu lagi banyak orang yang lagi berantem, bahkan salah seorang pemabuk tak dikenal tewas di tempat itu karena over dosis. Sang misionaris berusaha melerai mereka dan berujung khotbah di pinggir jalan, di depan mayat tak dikenal itu. “Bertobatlah, berbaliklah dari jalan-jalanmu yang jahat. Percayalah pada Tuhan dan kamu akan selamat!” teriak sang misionaris, “...dosa-dosamu yang berat sudah Tuhan tanggung semua, asal engkau mau percaya, bertobat dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan!” Tiba-tiba seorang anak muda berdiri, dan dengan nada bicara yang sinis bertanya pada sang misionaris, “Pak, kalau Bapak bilang ...
BATU APAAN NIH! Brekbekbek. Brekbekbek. Pret. Seperti biasa pesawat Mach ngadat. Ngadat di waktu yang tak tentu arah. Di waktu yang bernada sumbang. Apaan sih. Yang pasti semuanya gak pasti. Rupanya bensinnya abis. Duit Mach juga abis. Wah, Mach harus cari bantuan, harus beli bensin tapi gak ada duit! Hmmm… semoga ada orang yang mau meminjami Mach duit di bawah bukit sana. Mach harus berjalan berjuta-juta centimeter untuk mencapai tujuan Mach selanjutnya, sambil menuruni lembah. Dari atas bukit nan hijau toska, sembriwing hati nan ridu berkala, Mach bisa melihat jalan setapak berkelak-kelok. Jalan yang harus Mach tempuh. Huaduh! Panjang amat. Dari kejauhan, terlihat beberapa orang juga menyusuri jalan tersebut. Ada yang pake sepeda, mobil, motor, becak, sepatu dan sandal. Rupanya jalan setapak dinosaurus ini rame juga. Tapi, hei, kok ada batu gede yang menghalangi jalan disana. Gak ada orang yang mau memindahkannya biar jalanan gak macet. Mungkin batunya berat kali ya....