Langsung ke konten utama

BATU APAAN NIH!



BATU APAAN NIH!

Brekbekbek. Brekbekbek. Pret. Seperti biasa pesawat Mach ngadat. Ngadat di waktu yang tak tentu arah. Di waktu yang bernada sumbang. Apaan sih. Yang pasti semuanya gak pasti. Rupanya bensinnya abis. Duit Mach juga abis. Wah, Mach harus cari bantuan, harus beli bensin tapi gak ada duit! Hmmm… semoga ada orang yang mau meminjami Mach duit di bawah bukit sana. Mach harus berjalan berjuta-juta centimeter untuk mencapai tujuan Mach selanjutnya, sambil menuruni lembah.

Dari atas bukit nan hijau toska, sembriwing hati nan ridu berkala, Mach bisa melihat jalan setapak berkelak-kelok. Jalan yang harus Mach tempuh. Huaduh! Panjang amat. Dari kejauhan, terlihat beberapa orang juga menyusuri jalan tersebut. Ada yang pake sepeda, mobil, motor, becak, sepatu dan sandal. Rupanya jalan setapak dinosaurus ini rame juga.

Tapi, hei, kok ada batu gede yang menghalangi jalan disana. Gak ada orang yang mau memindahkannya biar jalanan gak macet. Mungkin batunya berat kali ya. Orang-orang lebih memilih untuk berjalan memutar atau memilih jalan alternatif sambil dengerin musik rock alternatif.

Dalam perjalanan menyusuri waktu dengan  pesawat Timemachine, Mach selalu always pasti nemu halangan rintangan en hambatan. Entah itu mesin ngadat, kepala pening, jalan berliku, dompet cekak, mata juling atau idung mimisan. Kali ini, batu itulah rintangan Mach. Mach bisa aja memilih jalan tikus, tapi ah.. kenapa gak sekalian aja Mach mindahin batu itu, biar orang-orang bisa lewat dengan  leluasa.

“Hmmmpphhh!” Mach berusa mendorong batu besar itu. “Heeuuuuppmmmhhgfd!” Ah! Akhirnya batu itu mau bergeser, dan jalanpun terbuka. Tapi, omG! Ada apa di bawah batu itu? Ada secarik kertas yang masih bagus meski terlihat kotor karena tertutup batu selama ini. Mach lalu membacanya dan tersenyum.

“Selamat! Bagi Anda yang memindahkan batu yang menutupi surat ini, tersedia hadiah uang dengan hanya menunjukkan surat ini di Bank terdekat! Salam: Officer Povy”

Puji Tuhan! Mach akhirnya bisa beli bensin dan pulang. Sementara itu, di balik semak, officer Povy tersenyum. Akhirnya dia puas, setalah 3 minggu 2 hari 5 jam 7 menit 3,6 detik dia bersembunyi di balik semak menunggu ada orang yang mau berbaik hati memindahkan batu yang sengaja ia simpan di sana. (GF!)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AWAS ANJING GALAK

AWAS ANJING GALAK “Udah, masuk aja!” ujar si Bubba sambil pelan-pelan membuka pintu pagar pekarangan si Profesor. “Tapi Bubba…” Suara Mach rada-rada serak kayak ketakutan, “…apa kamu gak liat ada tulisan ‘AWAS ANJING GALAK’ di pagar tadi?”. “Ah, aku udah pernah liat kok anjingnya si Prof, anjing lucu, imut, mana mungkin galak!” jawab si Bubba sambil terus masuk ke pekarangan. “Paling si Prof cuman mau nakut-nakutin doang!” Di dekat situ keliatan rumah anjingnya, dan anjingnya lagi tidur! Hei! Lucu juga mukanya, bikin gemes, pikir Mach. “Yuk, kita deketin anjingnya!” Bubba malah menghampiri rumah anjing di pekarangan itu. “Husssh!! Jangan dong, entar bangun lho!” “Ah, gak apa-apa bangun juga!” ujar Bubba, lalu dia membelai anjing itu. Tiba-tiba, mata anjing itu terbuka, dan langsung mengeram… “WAAAAAAAA!!!!!” Mach en Bubba kaget sekaget-kagetnya. Si anjing berdiri dan langsung mengejar Mach dan Bubba yang lari tunggang langgang menuju pintu pagar. “GUK! GUK! GRRRRR” Grauk! “WUAAA!!!” As...

DONAT! DONAAAT!

Sore itu, Mach harus ngejagain si Dunnaweirz Jamilowjoxxi , ponakan Mach yang pernah Mach ceritain beberapa waktu yang lalu. Temen-temen menyebutnya MiniMach, soalnya dia suka ngikutin gerak-gerik Mach. Dan bentuknya mini. Hehe. Ah, Mach bawa ke mall aja deh kali ini, sekalian mau nyobain konter donat yang baru dibuka kemaren. Katanya, mereka bagi-bagi sample donat gratis buat pengunjung mall beberapa hari ini. Wah, asik juga tuh. Tiba di depan konter donat… Weleh-weleh, ngantrinya kayak kompor meleduk di lapangan basket sambil menyanyi naik-naik ke puncak gunung dengan   nada G pake gitar akustik! Panjang bangeeeet! Tapi… yaaaa… lumayan deh, Mach dan Dunnaweirz Jamilowjoxxi ikutan ngantri aja, abis penasaran gimana rasanya donat baru itu. MiniMach juga penasaran pengen ngerasain apa rasanya bagian tengah donat yang bolong itu. “Paman Mach, kenapa sih banyak orang yang ngantri kayak gini?” tanya Dunnaweirz Jamilowjoxxi sambil ngupil. Tapi hidungnya pake hidung Mac...

PERIBAHASA MACH 2

Masih inget dulu Mach dihukum sama si profesor gara-gara nggak ngerjain peer? Mach kan disuruh nyusun peribahasa dalam bahasa Indonesia. Rupanya si profesor ngasih nilai jelek banget, soalnya Mach bikin peribahasa versi Mach sendiri. Nah.. Mach dihukum ulang bikin lagi tugas yang sama sebagai perbaikan. Tapi tau enggak? Nilai Mach tetep jeblok! Kenapa ya? Liat aja deh hasil tugas Mach: PERIBAHASA MACH 2 Seperti kebakaran jenggot, call 911. Tiada rotan, akar pun jadi. Tiada Rakhe, Ram Punjabi Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Cinere.. Gandul.. Tariiiik!. Sudah jadi abu arang, sate lupa diangkat. Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang singa berdoa. Malu bertanya sesat di mal Gali lubang tutup lubang, cangkul-cangkul-cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita. Sambil menyelam minum air, keselek ikan mas. Seperti telur di ujung tanduk, ..awas.. awas.. aahh! Krak! Kura-kura dalam perahu, pura-pura dalam perahu, padahal dal...